<$BlogRSDUrl$>

Saturday, August 23, 2003

4164. harybudiarto (dari bukutamu www.cybersastra.net, 18/08 2003)

ini pengumuman lomba sastra Tepak di Bengkalis, saya copikan dari Riau Pos, Senin (18/8 ). makasih. habeka / /////

Sayembara ''Hadiah Tepak '' Diumumkan

Setelah melewati waktu yang cukup panjang, akhirnya dewan juri Sayembara Penulisan Cerpen dan Puisi ''Hadiah Tepak'' menyelesaikan tugasnya. Kemarin (17/8), berdasarkan rapat terakhir dewan juri, telah ditetapkan para pemenang sayembara yang dilaksanakan Majalah Sastra dan Budaya terbitan Dewan Kesenian Kabupaten Bengkalis (DKKB) tersebut.

Berdasarkan rapat dewan juri yang terdiri dari Taufik Ikram Jamil , Abel Tasman, dan Eriyanto Hady, karya-karya yang dinyatakan menang untuk kategori cerpen mahasiswa/umum secara berurut adalah;
Kopi Senja di Negeri Siti (Marhalim Zaini/Bengkalis),
Sandy Clay (Olyrinson/Pekanbaru),
Telepon Berdering Tengah Malam (Isbedy Stiawan ZS/Lampung),
Seekor Anjing Menelan Bom (Agustinus Wahjono/Yogyakarta), dan
Kemerdekaan (Musa Ismail/Bengkalis).

Untuk kategori cerpen pelajar, para pemenangnya secara berurutan;
Moses dan Alesia (Wiryawan Nalendra/Pekanbaru),
Rp 500,00 (Debora Suryani S./Mandau, Bengkalis),
Riau Impianku (Rahmat Baki/ Pekanbaru),
Batas Dinding (Hayati Rahmah/Mandau, Bengkalis), dan
Sebuah Sandiwara (Reni S).

Sedangkan untuk pemenang puisi yang dinilai tiga dewan juri masing-masing Husnu Abadi, Kazaini KS, dan Mosthamir Thalib, para pemenang puisi kategori mahasiswa/umum secara berurutan;
Perempuan yang Selalu Membuka dan Menutup Payungnya (Jimmy Maruli Alfian/Lampung),
Melayu Jalang (Ramon Damora/Batam),
Epesida XX (Indra Cahyadi/Surabaya),
Nakhoda (Gita Ramadona/Jakarta), dan
Merenungi Catatan Senja (Ari Setya Ardhi/Jambi).

Pemenang puisi pelajar secara berurutan;
Balada Raja Ali Haji Fisab ilillah (Ella Hermila/Batam),
Perempuan, Gerimis, Senja, Zaman dan Dunia (Dona Adriani/Bengkalis),
Bunda Sejarah (Efendi/Bengkalis),
Tangisan Anak Negeri (Indriyanti/Batam), dan
Negeri Junjungan (Erdila Fitriadi/Bengkalis).

Salah seorang juri cerpen Taufik Ikram Jamil tentang Sayembara “Hadiah Tepak'' ini menyebutkan, dewan juri -- khususnya cerpen-- merasa ''kewalahan'' dalam menentukan pemenang. Hal ini, selain disebabkan banyaknya naskah yang harus dinilai, juga disebabkan berimbangnya hasil penilaian dari karya yang masuk tersebut. ''Dari sisi jumlah saja, kita memang dipaksa menilai naskah-naskah lomba ini dalam waktu yang cukup panjang. Untuk cerpen pelajar saja, tercatat 159 naskah dan kategori cerpen umum 158 naskah,'' kata Taufik.

Bukan hanya naskah cerpen yang banyak, naskah puisi yang ikut dalam sayembara ini cukup ramai. Puisi pelajar tercatat 745 karya, dan puisi umum 874 karya .

Sementara itu, hadiah bagi para pemenang dalam bentuk uang tunai dengan nilai total Rp.17,5 juta dan tropi, akan diserahkan 25 Agustus mendatang, bersamaan dengan pembukaan Pingat Kejohanan Tari se-Riau di Bengkalis. Kepada pemen ang dengan sendirinya diundang untuk menghadiri acara penyerahan hadiah (*)

Lomba Cerpen Sleman 2001
TIDAK ADA KARYA TERBAIK

YOGYA (KR) - Dewan Juri Lomba Cerpen Sleman 2001, akhirnya sepakat menentukan tidak ada karya terbaik dari 125 peserta lomba cerpen yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sleman. Alasan yang dikemukakan Prof Dr Suminto A Sayuti (ketua), Drs Arwan Tuti Artha, Achmad Munif (anggota), secara kualitatif peserta yang datang dari seluruh pelosok tanah air itu, tidak memenuhi standar minimal, baik secara teknis maupun kedalaman isi.

Namun demikian, juri menentukan 5 besar karya yang dianggap baik, dengan tanpa urutan, karena kelimanya memiliki kekuatan dan kelemahan secara merata. Demikian juga, juri merekomendasikan 10 besar untuk dimasukkan dalam antologi cerpen dari hasil lomba tersebut.

Ketua Panitia Lomba Cerpen Sleman 2001, Krisna Mihardja menyebutkan, 5 besar terbaik, berdasarkan urutan abjad judul, masing-masing adalah
‘Bupati Batu’ (Bambang Widiatmoko),
‘Kota Terhilang’ (Agustinus Wahjono),
‘Laki-laki Pilihan Ibu’ (Titi Prastitiyani),
‘Pedro dan Sepatu Lars’ (Alexander, Lampung),
‘Rembulan di Atas Pasungan’ (EN Fitria, Yogya).

Sedangkan yang masuk 10 besar direkomendasikan, urutan berdasarkan abjad berjudul
‘Barisan Orang di Kotaku’ (Cut Dian),
‘Bayi itu Telah Kubuang’ (Sartono),
‘Desi’ (Iwan Soekri Munaf, Jakarta),
‘Kamar Pembantu’ (Tini Sastra Saleh),
‘Kepasrahan’(Agung Kurniawan),
‘Ketika Panggung itu Roboh’ (Isngadi Marwah),
‘Lelaki Menangis di Belakang Monumen’ (Ciu Cahyono, Solo),
‘Pulang’ (Imam Risdiyanto),
‘Sepucuk Surat Cinta’ (VM Murwangsih),
‘Sketsa Wajah’ (Yusuf Priyasudiardja).

“Tanpa keterangan di belakang itu, berasal dari Yogyakarta,” kata Krisna Mihardja.

Untuk keputusan itu, kata Krisna, Dewan Kesenian Sleman, selaku panitia menyediakan hadiah masing-masing Rp 300 ribu kepada pemenang lima besar, dan kepada pemenang 10 besar masing-masing Rp 100 ribu. Hadiah tersebut masih akan ditambah dengan tanda penghargaan khusus dan diserahkan di rumah dinas Bupati Sleman, kompleks Beran, Triadi Sleman, Senin (12/11) pukul 20.00.

Dikatakan Krisna, penyerahan itu dilakukan bersamaan dengan peluncuran buku berjudul ‘Bupati Pedro, Laki-laki di Atas Kota Rembulan’. Acara ini terbuka untuk umum dan kepada peserta lomba diharapkan kehadirannya untuk bisa mendapatkan buku antologi tersebut.

Ditambahkan Krisna, lomba ini diselenggarakan untuk mengajak para sastrawan dan calon sastrawan menggali nilai-niilai budaya lokal. Paling tidak sebagai pandangan alternatif bagi kehidupan modernitas masyarakat yang sedang berubah ini. (Jay)-o

(Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 31 Oktober 2001)


@2003 Agts.Wahyono